IMG_4798Foto bersama usai helat Silaturahmi Seni. (30/1/2015). Musibah tidak hanya gempa bumi, tsunami dan sejenisnya. Tapi ketidakpedulian terhadap seni juga merupakan musibah besar budaya. Pasalnya, seni budaya abadi adanya. Selama pelaku dan penjaganya masih ada di muka bumi ini.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

UNTUK mengantisipasi terjadinya musibah kebudayaan itulah, perlu dilakukan berbagai upaya maksimal yang tiada henti. Salah satunya dengan melakukan diskusi dan dialog-dialog secara intens, sembari mencipta dan melahirkan karya-karya unggul. Apalagi, hubungan timbal-balik antara pihak yang berkaitkelindan untuk menjaga, memelihara, dan membesarkan kebudayaan, salah satunya seni belum terjalin erat.

Karenanya, helat Silaturahmi Seni, yang dilaksanakan Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP) bekerja sama dengan Sanggar Tengkah Zapin direspon positif, terutama para seniman muda di Kota Bertuah Pekanbaru. Ditambah lagi, pihak pelaksana helat budaya itu menghadirkan beberapa nara sumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing, seperti pihak pemerintah daerah, lembaga adat Melayu, serta para seniman dari berbagai percabangan seni.

Dalam helat yang berlangsung di halaman belakang Sekretariat Tengkah Zapin yang berlangsung, Jumat (30/1) malam, dengan tema ‘’Menyibak Riak Sungai Jantan’’ tercetus banyak gagasan untuk mengembangkan kesenian di Kota Pekanbaru. Dalam bersembang-sembang seni itu pula, para seniman meluahkan isi hatinya yang diwakili Pemangku Ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP), Hari Sandra Hasan.

“Marilah bersama berbuat dan lebih peduli pada kebudayaan, terutama seni yang menjadi identitas negeri ini. Terus berbuat dan melahirkan karya-karya terbaik sehingga musibah besar kebudayaan dapat kita antisipasi. Karena bencana dan musibah bukan hanya gempa bumi, tsunami atau sejenisnya, ketidakpedulian pada seni dan budaya juga murupakan salah satu musibah besar bagi kehidupan manusia,” ungkap sastrawan Riau Yoserizal Zen, pada helat budaya diakhir bulan lalu.

Yos, sapaan Yoserizal Zen yang memang mengikuti perkembangan DKKP mengatakan, keberadan DKKP memang terlihat seperti tidak pernah ada walaupun ketuanya bergonta-ganti. Persoalan lainnya yang mengakibatkan DKKP hampir tidak berjalan programnya adalah terputusnya komunikasi antara sesama anggota, bukan hanya dengan pemerintah. Sehingga bekerja sendiri-sendiri padahal  potensi seni itu baik sumber daya manusia, sumber daya alam, cukup ramai di Pekanbaru ini.

“Cukup banyak pihak prihatin, ketika kawan-kawan DKKP mengajak diskusi, ingin melaksanakan silaturahmi. Karenanya, kami dari komunitas Tengkah Zapin menyambut baik gagasan itu. Tujuannya tak lain ingin memberikan warna, ingin membukitkan Pekanbaru sebagai pusat seni dan budaya,” jelasnya.

Ia juga mengemukakan harapannya, silaturahmi yang ditaja itu diharapkan menemukan solusi atas persoalan-persoalan yang ada dari isntansi terkait sehingga lembaga kesenian seperti DKKP ke depannya dapat memberikan sesuatu yang lebih. Apalagi jika berbicara tentang seni budaya terlebih lagi terkait dengan permasalahan-permasalahannya, tiada habisnya.

Satukan Semangat
Silaturahmi seni dan bersembang tentang persoalan seni yang dihadapi dinilai penting oleh Pemangku Ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP), Hari Sandra Hasan karena selama ini keberadaan DKKP seperti ada dan tiada. Kata Hari, sapaan akrabnya itu, helat perdana dari DKKP tahun ini tak lain adanya keinginan untuk berjabat tangan, berdisksui bagaimana kesenian dan kebudayaan ke depan menjadi lebih baik lagi. “Karena selama ini, kita melihat, Pekanbaru sebagai barometer seni tidak menunjukkan tanda-tandanya,” ucap Hari.

Padahal lanjut Hari, sumber daya manusia terutama pelaku seni di Kota Pekanbaru ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Tetapi memang kemudian yang menjadi persoalannya adalah kurangnya ada regulasi dari pemerintah, “Itu yang menurut saya belum terpenuhi. Belum adanya sinergitas antara kita, antara pelaku seni dan pemerintah,” ucapnya.

Dalam perjalanannya, kendala yang sejak dahulu ditemui di DKKP pertama karena memang tidak ada payung hukum, sampai hari ini, DKKP belum pula memiliki sekretariat,”Inikan ironis juga, DKKP yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Pekanbaru tetapi tidak memiliki sekretariat,” jelas Hari sembari menambahkan kendala lainnya, disebabkan helat dan kegiatan seni di provinsi.

Hal inilah kemudian, menurut Hari harus ada upaya-upaya untuk menyikapi hal itu namun demikian, tentulah ini bukan menjadi pekerjaan DKKP sendiri tetapi katanya, dengan cara bekerja sama. Seniman sangat memerlukankan bantuan, baik materi maupun lainnya dari pemerintah. Tanpa itu, akan sulit dalam hal pembinaan. “Memang ada kelompok seni yang bisa mandiri. Tapi masih banyak juga yang belum mampu. Ke depan sebenarnya kita punya program untuk membentuk balai latihan seni di setiap kecamatan, punya kantong seni di setiap kecamatan-kecamatan yang ada di Pekanbaru,” jelasnya tegas.

Sementara itu, narasumber lainnya, Asisten IV Setdako Pekanbaru Sentot Joko Prayetno memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan. Katanya, tatap muka yang terjadi menjadi penting untuk membincangkan persoalan-persoalan seni budaya yang ada saat ini. Dari sinilah kemudian dapat ke depannya menemukan langkah-langkah untuk memajukan seni di Pekanbaru.

Sentot menjelaskan, kemajuan seni menjadi penting karena akan berkesuaian pula dengan visi misi dari Kota Pekanbaru yaitu terwujudnya Pekanbaru sebagai kota metropolitan yang madani. Metropolitan itu raganya. Kota madani itu jiwanya atau ruh. “Pada ruh inilah harus tercermin seni dan budayanya. Nah, yang terpenting menurut saya, adalah komunikasi kemudian bagaimana seniman bekerja sama dengan pemerintah atau pihak terkait untuk mengangkap peluang agar kesenian di Pekanbaru bisa menjadi asset budaya dan bernilai ekonomis. “Tapi memang mengingat persoalan yang ada, tentu saja keingian itu tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Perlu komunikasi dan diskusi lebih jauh. Artinya dari pemerintah kota, siap membantu untuk kemajuan seni dan budaya itu,” katanya.

Ketua Harian LAM Kota Pekanbaru, Destrayani Bibra merasa prihatin terhadap nasib DKKP. Sejauh ini, DKKP seperti berjalan di tempat saja, sesudah pelantikan pengurus kemudian seperti hilang tak berbekas. Silaturahmi dan sembang seperti ini, akan dapat menguak persoalan apa yang harus diselesaikan dan dicari solusi bersama. LAM Kota Pekanbaru, siap bersinergi.

“Ada banyak pekerjaan DKKP yang semestinya dapat dilakukan. Namun tentu saja harus ada sinergitas dengan pihak-pihak terkait lainya. Seperti halnya yang pernah dirancang ketika saya menjabat sebagai Kepala Dinas Budpar Kota beberapa waktu lalu. Kita pernah cetuskan helat bertajuk Bandar Senapelan Festival. Napak tilas dari apa-apa saja yang terjadi di lingkungan masyarakat kota Pekanbaru yang berada di sepanjang tepian sungai siak itu. Namun sayangnya di pertengahan jalan, semuanya tidak dapat terealisasi,” ucap Destriani.(fed)

 

Sumber : http://www.riaupos.co/2407-spesial-mencegah-musibah-kebudayaan.html