foto bersama
Pekanbaru (24/2/2015)
. Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP) minggu, 22 Februari 2015 lalu menaja event yang bertajuk Traditional Performing Arts Goes to Mal dengan tema “Riak-riak Sungai Jantan” di MAL SKA tepatnya di Atrium Siak. Kegiatan ini dimulai pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam.

Untuk mensukseskan kegiatan ini DKKP melakukan kerjasama dengan beberapa organ lain sekaligus panitia pelaksana seperti Mal SKA, Insani Kreatif Promosindo, AGR Sound System, Riau Pos, Riau Pictures ID, XCom, Ceria Tv, Malay Music Institute dan Taman Budaya Riau.

belacan aromatic1Event ini menampilkan beberapa cabang seni tradisi seperti tari, pencak silat, musik, seni rupa, teater dan sastra. Berikut adalah beberapa grup yang tampil pada event Traditional Performing Arts Goes to Mal: Tengkah Zapin, Seri Melayu, Tameng Sari Dance Company, Dang Merdu, Urban Rhythm, Sikari, Selembayung, Riau Beraksi, Jefri Al Malay dkk, Laman Pencak Silat Andalas (LPSA), Peri 13, dan Belacan Aromatic.

 

riau beraksi 2Siang hari diisi dengan penampilan dari cabang seni tari, dan pencak silat; Tameng Sari Dance Company mengadakan workshop tari dan beberapa tari kreasi. Khusus workshop yang mana pesertanya terdiri dari beberapa orang pengunjung MAL ini cukup menarik minat para pengunjung MAL, karena dianggap unik dan langka ada workshop tari tradisi di MAL.

Selanjutnya ada Sanggar Dang Merdu yang menampilkan beberapa karya tari kreasi sekaligus peragaan busana melayu modern. Diantara ketiga tari yang ditampilkan, ada satu macam jenis tari yang unik, karena tari ini mereka angkat dari seni tari tradisi Suku Talang Mamak yang merupakan salah satu suku asli yang ada di Riau. Gerakan tari dan konstum yang Mereka tampilkan juga terbilang unik layaknya tarian “pemujaan” suku talang mamak jaman dahulu.

LPSA3Sedangkan LPSA menampilkan pencak silat KUMANGO. Silat yang ditampilkan tersebut merupakan silat asli asal Minang Kabau, dimana silat ini biasanya digunakan untuk persembahan kepada para tamu undangan dalam sebuah hajatan resmi maupun tidak resmi.

Sebelum jeda pada sore harinya ada penampilan dari tiga Sanggar Seri Melayu dengan beberapa tari kreasi, Sanggar Tengkah Zapin yang menampilkan beberapa karya tari zapin dan peragaan busana melayu. Kreasi zapin yang mereka tampilkan diantaranya adalah tari zapin tunggal dan berpasang-pasangan. Tema Zapin yang mereka tampilkan diangkat dari ceruk Desa Meskom yang berada di Kabupaten Bengkalis. Desa Meskom ini mereka anggap khas, karena masyarakat di Desa ini sangat familiar dengan seni zapin. Sanggar Seri melayu tidak hanya menampilkan tari kreasi saja, mereka juga menampilkan peragaan busana oleh model dan tutorial mengenakan hijab. Selanjutnya ada Sanggar Selembayung yang menampilkan Opera Melayu “Bulang Cahaya” dimana cerita ini diangkat dari sebuah Novel Karya Tuan Rida K.Liamsi. Opera Melayu yang ditampilkan pada pertunjukan menjelang malam ini juga menarik minat pengunjung MAL untuk menyaksikannya, karena mereka berakting layaknya dipanggung opera sungguhan.

sikariSelanjutnya ada penampilan teatrikal dari Riau Beraksi, mereka mengangkat tema nasionalisme dan budaya “nimang anak” dari daerah kampar. Sebuah keunikan terjadi saat mereka melakukan adegan stop motion yang sontak bikin para pengunjung MAL terheran-heran. Dipadu dengan lantunan musik santai sebagai latar membuat pertunjukan semakin sempurna.

Pada malam harinya event ini dimeriahkan dengan beberapa persembahan dari grup musik seperti Urban Rhythm, Peri 13, dan Belacan Aromatic. Penampilan dari ketiga grup musik ini juga menyita perhatian para pengunjung yang pada akhirnya menyaksikan penampilan dari mereka yang berada di stage dengan membentuk sebuah lingkaran yang rapi.

Disepanjang pagelaran event ini juga ada pameran dari cabang seni rupa berupa lukisan dan karikatur dari Sindkiat Kartunis Riau (SIKARI). Selama berjam-jam kartunis ini menerima pesanan karikatur wajah secara langsung. Sehingga menyebabkan para pengunjung MAL mulai mengantri supaya bisa mengabadikan wajah mereka dalam bentuk karikatur.

Secara keseluruhan kegiatan yang ditaja oleh DKKP ini sangat meriah mulai dari awal dibukanya acara hingga penutupan. Acara ini secara resmi ditutup oleh Bapak Hermanius yang merupakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru.

Belacan Aromatic4
Dalam sambutannya beliau mengapresiasi kegiatan DKKP ini karena dianggap sebagai salah satu upaya untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Kota Pekanbaru.

Sesaat setelah penutupan dari beliau acara pun ditutup oleh penampilan dari grup musik Belacan Aromatic. (a-l,d.k)